Saturday, November 10, 2018

Cerpen "Aku dan Karmaku"




Aku dan Karmaku

Aku adalah seorang perempuan yang pernah melakukan kesalahan terbesar. Suatu ketika, di tahun itu tepatnya tahun 2016 pertengahan bulan aku mengenal sosok seorang laki-laki di media sosial. Saat itu, keadaan rumah tanggaku dalam keadaan hancur dan terpuruk.

Kemunculan laki-laki itu membuat aku bahagia kembali. Aku sering chatting dengannya. Ia selalu menghiburku dan bersikap sopan. Tak lama kemudian akhirnya kita memutuskan untuk bertemu disebuah tempat. Tepatnya di sebuah tempat. Kami berkenalan satu sama lain. Bingung mencari tempat untuk mengobrol, akupun memutuskan untuk mengajaknya ke tempat makan baso ternama di bandung. Kami mengobrol dan bercanda. Sampai suatu waktu ada seorang lelaki yang membeli bakso dan memotret struk pembelian. Tanpa disadari, kita tertawa bersamaan. Tanpa bicara sebenarnya kita paham apa yang kita pikirkan itu tentang lelaki itu.

Sejujurnya aku merasa amat sangat nyaman dengan kehadirannya. akan kesopanannya, cara ia memperlakukanku, caranya mengungkapkan kasih sayangnya padaku. Kehadirannya merupakan suatu berkah yang ada dalam hidupku. Pertemuan kita amatlah singkat saat itu. Entah kenapa aku merasa rindu setelah beberapa hari berlalu. Rindu ini sangatlah menyiksaku.

Semakin hari, kami semakin intens bertemu. Ia selalu mengajakku berjalan-jalan. Sekedar makan sate di pinggiran jalan, pecel lele lesehan atau ayam bakar tempat yang sering kami kunjungi. Pertemuan itu semakin membuatku jatuh cinta dan ingin memilikinya.

Aku tau aku salah saat itupun, karena secara hukum aku masih istri dari orang lain. Tapi, kami masih selalu berkomunikasi. Hubungan kami semakin dekat. Dan hubungan dengan suamiku semakin jauh. Semakin dekat dengannya semakin membuatku nyaman. ialah sosok lelaki yang membuatku bahagia. Aku merasa aku wanita yang paling bahagia di dunia.

Akhirnya hubunganku dengan suamiku itu berakhir di meja hijau. Tak berselang lama, saat kami semakin dekat dan intens bertemu. Saat itulah aku mengirim sebuah pesan bernada manja sayang. Tiba-tiba munculah balasan yang dengan perkataan yang amat sangat kasar dan menyakitkan. Seketika itupula aku terkejut dan ingin menangis. Kenapa ini, dan siapa ini? Muncul berbagai pertanyaan dibenakku itu.

Tak tahan aku langsung menelponnya, ternyata yang mengangkat adalah istri sah dari laki-laki itu. Hatiku hancur berkeping-keping. Namun, aku tetap tak percaya dan seolah ingin membuktikan. Karena apa?.. karena yang aku tau ia adalah seorang duda yang memiliki anak.

Seketika itupula wanita tersebut memberikanku sebuah alamat tepatnya tidak jauh dari rumahku itu. Ia mengajakku bertemu, dan akupun tak berpikir Panjang. Akupun menemuinya. Yang terjadi disana ia memakiku dengan kerasnya. Aku terima dan aku meminta maaf atas semua kejadian ini. Karena aku memang tak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Yang aku tau seperti itu. Bersumpahpun aku berani karena itu yang sebenarnya aku tau.

Seketika akupun pergi dengan hati yang amat sangat hancur. Ingin menangis, tapi apa daya aku tak kuasa karena apa yang harus ku tangisi saat itu. Aku pergi menuju sebuah alamat yang aku dapatkan dari perempuan itu. Aku bertanya pada tetangga tetangga sekitar itu. Apa yang aku tanyakan tak ada yang tahu. Sampai akhirnya ada yang mengarahkan kepada sebuah rumah bercat hijau. Aku lihat dan aku abadikan dalam hpku. Ternyata benar itu rumah mereka.

Seketika aku tersadar, jika selama ini, selama satu tahun yang aku jalani ternyata aku tak tahu apa-apa sedikitpun tentang dia. Aku merasa terpukul dan merasa menjadi wanita yang paling bodoh didunia ini. Apa karena aku terlalu cinta?..... sehingga aku sama sekali tak peduli tentang apa yang pernah dialaminya dimasa lalu atau hidupnya, atau apa karena posisiku sebelumnya salah?... apa karena aku butuh sosok seorang pelindung disaatku terpuruk sehingga membuatku buta?.......... aku tak tahu dan tak paham dengan pikiranku saat itu.

Aku kembali pulang.

Kring… kring… hpku berbunyi
Tanpa ku sadari berapa banyak pesan yang masuk ke hpku itu. Dan panggilan tak terjawab yang ku lewatkan. Ada sebuah pesan yang berbunyi “Kamu dimana?... “kalau kamu ga angkat nanti aku semakin macem-macem nieh…” karena rasa sayangku yang amat sangat dalam dan aku tak ingin ia melakukan hal yang buruk, akhirnya aku mengangkat telpon itu. Dan ia pun meminta waktu untuk bertemu. Akhirnya kamipun bertemu, ia menjelasakan apa yang sebenarnya terjadi. Ia sangat menyayangiku dan bahkan ingin hidup denganku. Aku sangat bahagia mendengar semua itu. Meski aku tahu dalam diriku, aku telah salah memutuskan hal ini. Tetapi tetap saja karena cintaku padanya itulah yang membuatku semakin bahagia.

Kami pun memutuskan untuk merancang kehidupan masa depan bersama, tanpa memikirkan apa yang akan terjadi didepan nanti. Kami memulai semua dari nol. kami tak memiliki apa-apa saat itu. kami membeli sebuah motor bekas untuk alat transportasi yang akan kami gunakan sehari-hari. Kami merintis segalanya dari nol. kami mulai menabung untuk usaha yang kami idamkan itu. Aku tahu aku bersalah telah memutuskan hal ini. Tapi dengan perasaan dan cintaku, aku tak peduli. Aku melihat kesungguhan ia padaku itu. Ia melindungiku, menjagaku sepenuh hatinya. Merawatku ketika aku sakit, memperhatikan makanku, kegiatanku, semuanya tentangku.

Apakah sosok lelaki seperti ini harus aku lepaskan..?
“Tidak”, jawabku. Egois memang. Tapi ia benar-benar sempurna dimataku.
Bahagianya aku memilikinya.

Namun selang setahun kemudian, tepatnya setelah 2 tahun bersama. Munculah sikap egoisku yang ingin memilikinya sepenuhnya.  Aku semakin takut dan cemburu setiap melihat ia didekati wanita lain. Begitu banyaknya lingkaran wanita dihidupnya semakin memuatku gila dan ketakutan.

Yah, aku takut kehilangannya, aku takut dia pergi, aku takut ia tergoda.
Aku sadar jika aku bukan lah wanita kaya, cantik rupa, baik, apalagi sholehah. Jauh aku rasa. Ternyata sikapku yang berlebihan itu membuat ia menjauh dariku. Kemarahanku akan kecemburuan yang tak  beralasan itu membuatnya pergi dariku.

Aku menyadari aku salah, amat sangat salah. Atas semua ketakutanku yang tak beralasan
Setelah beberapa hari aku bermuhasabah tentang semua ini, akhirnya aku tersadar, bahwasanya memang kecemburuanku berlebihan atas semua itu. Ketika semua kejujuran yang tlah ia berikan padaku, aku balas dengan ketidakpercayaan.

Bagiku aku tak salah, karena sekedar mengungkapkan apa yang aku rasakan. Tetapi ternyata aku salah besar. Aku seorang istri yang tak baik. Aku selalu melawan apa kata-kata dari seorang suami. Aku adalah istri yang selalu merasa paling benar. Aku adalah istri yang berhati keras seperti batu. Aku salah. Semua itu salah.

Selayaknya seorang istri wajib menuruti apa perkataan suami. Jikalah suami memang salah, seorang istri layaknya tak membangkang dengan suara keras bernada tinggi. Sebaiknya seorang istri meredam amarah suami ketika ia marah, bukan malah memancing amarahnya.

Memang saat itu emosiku sangatlah tinggi bahkan aku berani membentak-bentak suamiku didepan khalayak ramai. Memang rasanya amat sangat tak sopan, sehingga wajarlah ia pergi meninggalkan diriku.

Namun, selain itu akupun berpikir. Mungkin ini salah satu karma yang aku dapatkan atas sesuatu yang aku paksakan. Sebelumnya mungkin aku menyakiti orang yang telah memilikinya sebelumnya. Aku merasakan bagaimana sakitnya aku ditinggalkan suami seperti ini. Dan yang paling menyakitkan adalah ternyata aku ditinggalkan karena kesalahan yang aku perbuat sendiri.

Itulah kisahku dan karmaku


Maafkan atas semua kesalahan yang aku lakukan selama ini,
Untukmu suamiku,
Mohon kembalilah padaku.
Rasanya hancur dan hampa ketika kamu tak ada dalam hidupku.
Tak ada penyemangat dalam hidupku lagi
Impian, harapan, cita-citaku sampai saat ini masih sama dan akan tetap sama.
Mengingkan hidup bersamamu sampai tua sampai ke surge
Dan semoga Tuhan memaafkan apa yang telah aku lakukan ini.
Dan untuk anda yang dulu pernah aku sakiti, maafkanlah aku atas kelakuanku karena posisi seorang suami takkan pernah lari jika tidak ada kesalahan yang dilakukan istri yang amat sangat fatal .

By. Niara Nur Aziah "DR Collection"

No comments:

Post a Comment